jackalride

ride through the night

Fenomena Social Identity Theory dan Deindividuasi

1 Comment

Hola folks

highway-6418

Sebagai anak timur, alias manusia yang hidup dalam lingkungan yang secara sosialnya erat, tentu saja kita udah gak asing dengan yang namanya kelompok. Atau bisa jadi, judulnya dipermanis menjadi grup, gerakan, geng, kubu, partai, klub, dan sebagainya. Intinya, kita sering sekali dipisahkan ke dalam situasi sosial dimana hanya ada dua fraksi: “Kami”, dan “Kalian”.

Yak, sampai sini jelas kan saya mau bahas apaan? Kalau iya, discroll kebawah wae biar enak.

Bukan mau sok dan antisosial apalagi menempatkan diri sebagai entitas paling benar, tapi kalimat-kalimat ini sudah sering sekali saya dengar di komunitas dunia maya yang serba anonymous alias lempar batu sembunyi tangan ini..

Saya.
Kami.
Kelompok kami.
Merk kami.
Pabrikan kami.
Klub kami.
Kubu kami.

…dan Kalian.

Alih-alih membela kelompok, kadang kita terjebak dalam tindakan egoisme diri yang akhirnya meninggikan derajat diri atau kelompok, dengan cara merendahkan kelompok lainnya. Tidak salah juga sebenernya, karena manusia pada dasarnya punya intuisi bawaan untuk berkelompok, dan mencari kelompok yang akan memberi mereka kebermaknaan hidup. Harapannya, dengan diterima oleh kelompok tersebut, mereka merasa diterima oleh orang lain, dan merasa memiliki makna untuk hidup di dunia ini. Itulah social identity theory, yang dikemukakan Henri Tajfel.

Bergabungnya manusia ke dalam kelompok, akan memecah pikirannya dalam men-judge orang lain menjadi dua fraksi: “kelompok gue” dan “bukan kelompok gue”. Ahh gak usahlah dibahas dalam-dalam. Lhawong setiap pembaca pernah mengalaminya di masa SMA.

Setelah lama seseorang bergabung ke dalam grup, maka dirinya akan mulai melebur ke dalam identitas grup. Kalau saya mau diterima sebagai anggota klub x yang beneran, yaa maka saya gak boleh absen kopdar dong. Kalau ada touring, masak yaa gak ikut.

Meleburnya inilah yang dinamakan deindividuasi. Ada baiknya, dan ada jeleknya juga. Kalau bener yaa bener berjamaah, kalo salah yaa rame-rame salah.

Rame-rame salah inilah yang malah kok sering muncul di halaman muka media masa. Asalkan punya identitas kelompok sebagai tameng, kok malah apapun dihalalkan terhadap yang bukan kelompok mereka. Kok jeblok dan rusuh?

Bukan mau menghakimi yaa, sekali lagi. Kalau memang ini fakta tanpa bantahan, mungkin proses hukum yang selama ini kita puja dan jilat kakinya, perlu kita kaji ulang lagi tentang bagaimana ia mengasuh masyarakat kita yang serba banyak kelompoknya dan banyak aturannya.

Keep riderhood!

Advertisements

Author: jackalride

Jackalride, your source for automotive and tech informations. Seorang mahasiswa merangkap desainer lepas, yang lama lulusnya ini, mencoba untuk menuangkan isi pikirannya dan keterbatasan intelektualnya untuk di share bersama, dibahas, dan bahkan untuk dikritik semata supaya kita bisa menambah wawasan dan saling memperkaya pengetahuan. Jangan ragu untuk berbagi, brosis! Semua rider itu satu aspal. Salah atau benar itu selalu ada dalam hidup, nggak tertutup buat Jackalride sendiri! Keep riderhood!

One thought on “Fenomena Social Identity Theory dan Deindividuasi

  1. wih mantep pembahasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s