jackalride

ride through the night

Moge dan Infrastruktur Kita

3 Comments

Hola folks

konvoi-816-motor-harleydavidson-pecahkan-rekor-muri-jl-jend-gatot-soebroto-20110131030503-5352Belum lama ini kabar jalan raya terdengar ribut akibat isu moge yang meminta fasilitas jalan khusus, yang berbeda dengan motor-motor “rakyat” kebanyakan. Penggunaan motor cc besar untuk harian dan acara khusus dirasa terhalangi oleh padatnya fasilitas umum bernama jalan raya, yang saat ini infrastruktur kita belum mampu menopang rider-rider dengan motor kapasitas besar dan kebutuhan khusus tersebut.

Sebetulnya, motor-motor gede yang sering diidentikkan dengan kaum elit dan pengendara highway lempeng ala Texas, itu cocok gak sih dengan kondisi Indonesia ini?

Populasi pengendara moge, faktanya memang gak banyak jumlahnya. Memang, butuh nyali tambahan buat menjinakkan moge yang harganya selangit dan karakternya gak friendly dengan jalanan kita yang jelek, sempit, becek, dan macet tanpa kawalan polisi. Itupun juga gak setiap hari mereka menunggangi sang kuda besi besar, yang cukup boros bahan bakar minyak dan diimpor dari luar negeri.

Yang bisa kita amati malahan jalanan terkesan padat oleh motor-motor berkubikasi 100-180 cc. Diatas kubikasi tersebut, yakni 200-250cc pun juga ada, walau tidak sebanyak kubikasi “mainstream” dibawahnya. Motor-motor produksi dalam negeri kita yang masih bernaung dibawah bendera merek-merek Jepang pun, masih nyaman untuk stay di kubikasi 100-250cc.

Paling mentok ya 250cc dual silinder, yang untuk jalanan Indonesia (ya, jalanan rakyat ini) sudah tergolong kencang. Lebih dari itu, motor pun menjadi tidak praktis dan terbatas pada kegunaan tertentu saja. Potensi moge yang bejibun dan klaim kecepatannya yang tinggi memang menarik, tapi siapa sih yang mau memacu 300kmpj di jalanan Indonesia diluar sirkuit?

Mungkin ada yang mau, tapi saya sih gak mau.

Common sense semacam inilah yang mengantarkan produksi-produksi semi-lokal kita bertahan pada angka 100-250cc saja. Baik pabrikan jepang, maupun India. Dari range kubikasi tersebut, mereka juga memecah lagi jenis-jenis motor menurut kegunaannya: harian, performa, dan touring. Tentunya masih dalam range kubikasi yang jadi pakem di negeri kita.

They are capitalist, but they’re not foolish.

Mereka memang kapitalis, tapi mereka gak segoblok itu untuk sekedar memindahkan motor-motor yang tidak cocok di Indonesia lalu menjualnya begitu saja. Semua butuh riset, dan riset adalah esensinya orang jualan supaya jualannya laku. Dari riset tersebut, Indonesia hanya cocok dengan motor-motor berkubikasi kecil yang tahan macet, bertenaga ideal namun tidak terlalu besar, dan juga murah. Mungkin ada pabrikan yang bersikukuh mendistribusikan produk CBU dengan kubikasi 400cc keatas, ya itu terserah mereka.

Saat ini, mau gak mau berkaca kepada pabrikan Jepang dan India menjadi hal yang tepat; karena memang mereka hanya memproduksi yang banyak diminati dan cocok dengan keadaan Indonesia menurut riset mereka. Walau akhirnya para pabrikan Jepang tersebut menjual moge juga, mereka sudah siap dengan konsekuensi margin profit yang tidak seberapa. Itung-itung hanya sebagai tambahan kecil lah dibanding jualan mainstream mereka.

Masyarakat sendiri sudah cukup ter-edukasi lah, untuk menilai bahwa motor sebesar moge, dengan ukuran dan kubikasi yang memang 2-5 kali lipat motor-motor rakyat yang biasa berseliweran di jalanan kita, bukanlah motor yang cocok digunakan untuk keseharian. Untuk mengendarai motor umum yang berkubikasi 125cc dan berbadan bebek saja kita kadang kewalahan untuk membelah jalan, apalagi yang berkubikasi besar dan kadang lebarnya setara dua motor. Ya gak bisa!

Pengakuan elitis berupa motor besar dan banyak uang juga tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menggunakan motor pada jalan yang memang bukan peruntukkannya. Padahal kita sama-sama membayar iuran untuk jalan, tapi kenapa masih ada yang meminta diistimewakan?

Alhasil, memang jalanan kita belum mampu menopang lajunya moge di nusantara ini. Perkotaan yang terlalu crowded, jalanan daerah yang terasa tertinggal, dan juga masyarakat kita yang belum sepenuhnya sadar akan hukum. Tulisan ini bukan untuk menghujat mereka yang memilih menunggangi moge, karena mereka memilih dengan kesadaran akan konsekuensi perilaku mereka. Hanya saja, saat ini Indonesia secara infrastruktur memang belum siap memberikan yang terbaik atas yang kalian telah pilih.

Semoga bermanfaat
Keep riderhood!

Advertisements

Author: jackalride

Jackalride, your source for automotive and tech informations. Seorang mahasiswa merangkap desainer lepas, yang lama lulusnya ini, mencoba untuk menuangkan isi pikirannya dan keterbatasan intelektualnya untuk di share bersama, dibahas, dan bahkan untuk dikritik semata supaya kita bisa menambah wawasan dan saling memperkaya pengetahuan. Jangan ragu untuk berbagi, brosis! Semua rider itu satu aspal. Salah atau benar itu selalu ada dalam hidup, nggak tertutup buat Jackalride sendiri! Keep riderhood!

3 thoughts on “Moge dan Infrastruktur Kita

  1. mungkin lain ceritanya kalau Indonesia punya jalan setara Autobahn :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s